Partai Gerindra membuka peluang untuk menjalin kerja sama dengan berbagai kekuatan politik dalam menghadapi Pemilu 2029. Salah satu partai yang mungkin terlibat adalah PDI Perjuangan (PDI-P).
Namun, Gerindra menegaskan bahwa saat ini belum ada diskusi mendetail mengenai pasangan calon atau susunan koalisi untuk pemilihan presiden mendatang.
Juru Bicara Gerindra, Sugiat Santoso, menekankan bahwa partainya siap untuk berkolaborasi dengan semua kekuatan politik demi kepentingan masyarakat.
“Gerindra membuka pintu selebar-lebarnya kepada kekuatan politik mana pun dalam konteks 2029,” jelas Sugiat dalam pernyataannya.
Ia juga menyebutkan bahwa keterbukaan ini termasuk kemungkinan kerja sama dengan PDI-P terkait Pilpres 2029.
Meski demikian, Sugiat menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak berarti bahwa koalisi sudah terbentuk. Saat ini, perhatian Gerindra lebih tertuju pada pelaksanaan pemerintahan di bawah Presiden Prabowo Subianto dan agenda legislasi, termasuk pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu.
Sugiat mengungkapkan bahwa Gerindra belum merumuskan secara spesifik terkait siapa yang akan diusung sebagai calon presiden maupun pasangan calon untuk Pilpres 2029.
Diskusi yang tengah berlangsung dengan partai-partai politik pendukung pemerintahan saat ini masih terfokus pada agenda legislasi dan penyusunan regulasi pemilu.
Oleh karena itu, keterbukaan terhadap PDI-P saat ini lebih merupakan sebuah potensi kolaborasi politik, bukan keputusan definitif mengenai koalisi Pilpres.
Pernyataan tersebut muncul pasca komunikasi politik antara tokoh-tokoh Gerindra dan PDI-P yang menarik perhatian publik. Gerindra juga menyatakan bahwa pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, dalam acara pemerintahan, tidak dapat langsung dianggap sebagai agenda politik menuju 2029.
Gerindra dan PDI-P memiliki sejarah kolaborasi dalam Pilpres 2009. Pada saat itu, PDI-P mengusung Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden dan Prabowo Subianto sebagai calon wakil presiden.
Namun, kedua partai telah menempati posisi politik yang berbeda pada Pilpres 2024, di mana Gerindra mengusung Prabowo Subianto berpasangan dengan Gibran Rakabuming Raka, sementara PDI-P mengusung Ganjar Pranowo dan Mahfud MD.
Pengalaman kerjasama di tahun 2009 dan perbedaan posisi pada 2024 menjadi bagian dari dinamika hubungan antara kedua partai menjelang 2029.
M Jamiluddin Ritonga, pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang dapat menciptakan ruang komunikasi antara Gerindra dan PDI-P.
Menurutnya, salah satu faktor tersebut adalah karakter politik nasionalis yang dimiliki oleh kedua partai. Ia juga menganggap hubungan personal antara Prabowo dan Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri, sebagai elemen penting dalam komunikasi politik di antara kedua partai.
Namun, Jamiluddin menambahkan bahwa hubungan personal tidak serta merta akan menghasilkan koalisi. Konfigurasi politik menjelang 2029 masih akan dipengaruhi oleh perkembangan hubungan antarpartai dan kepentingan politik masing-masing.
Jamiluddin menggarisbawahi pentingnya posisi Gibran Rakabuming Raka dalam konteks politik menuju 2029.
Menurutnya, posisi Gibran dapat menjadi salah satu faktor pertimbangan PDI-P jika Gerindra dan PDI-P membahas kemungkinan kerja sama politik. Hal ini terkait dengan posisi politik PDI-P pasca Pilpres 2024.
Di samping itu, hubungan antara Prabowo dan Presiden ke-7, Joko Widodo, juga diangkat sebagai faktor yang berpotensi memengaruhi konfigurasi politik menjelang 2029.
Namun, bagaimana hubungan antaraktor ini akan berkembang tergantung pada dinamika politik dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam tanggapannya terhadap keterbukaan Gerindra, Ganjar Pranowo dari PDI-P mengingatkan bahwa Pilpres 2029 masih cukup jauh di depan.
“Pilpres masih jauh,” kata Ganjar.
Ia menekankan bahwa partai pemerintah sebaiknya tetap fokus pada isu-isu yang dihadapi masyarakat saat ini, seperti bencana, penciptaan lapangan kerja, kekeringan, dan masalah pangan yang membutuhkan perhatian serius.
Dengan demikian, hingga September 2026, belum ada keputusan formal mengenai koalisi antara Gerindra dan PDI-P untuk Pilpres 2029. Meskipun Gerindra menunjukkan adanya keterbukaan untuk kemungkinan kerja sama, PDI-P menekankan bahwa agenda Pilpres 2029 masih jauh dari jangkauan saat ini.

Komentar