Menteri Ekonomi Kreatif dan juga Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menekankan bahwa komunitas memainkan peranan krusial dalam pengembangan ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan di suatu daerah. Hal ini diungkapkan saat kunjungannya ke Festival Mbois 11 yang mengusung tema “Malang Menyala”. Menurutnya, festival kreatif merupakan sarana untuk menghubungkan talenta, gagasan, pasar, serta peluang investasi sehingga karya-karya lokal dapat tumbuh menjadi aktivitas ekonomi yang berarti.
“Festival seperti Mbois menjadi ruang bertemunya ide, talenta, pasar, dan investasi,” ungkap Teuku Riefky.
Teuku Riefky juga menekankan bahwa status Malang sebagai UNESCO Creative City dalam bidang Media Arts harus dimanfaatkan untuk memperkuat regenerasi talenta serta menciptakan ekosistem kreatif yang berpotensi membuka lapangan pekerjaan. Dalam konteks ini, Malang Creative Center (MCC) diharapkan dapat berfungsi terus sebagai ruang pengembangan bagi kreativitas dan kewirausahaan di kalangan masyarakat.
Festival Mbois 11 tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga merupakan bagian dari persiapan menuju World Conference on Creative Economy (WCCE) dan memperkuat jejaring antar kota yang memiliki visi kreatif. Teuku Riefky menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah sangat penting, sejalan dengan Perpres Nomor 37 Tahun 2026 tentang Rindekraf 2026–2045. Kerja sama tersebut mencakup berbagai aspek seperti riset, pendidikan, pembiayaan, infrastruktur, pemasaran, serta perlindungan kekayaan intelektual.
Selama kunjungan tersebut, Teuku Riefky melakukan peninjauan terhadap sejumlah agenda menarik, seperti pameran mural, pameran media seni, eksplorasi potensi kekayaan intelektual lokal, serta area yang menyentuh aspek hiburan dan digitalisasi dalam ekonomi kreatif.
Ketua Pelaksana Festival Mbois 11, Gedeon Soerja, menjelaskan bahwa acara ini berfungsi sebagai wadah integrasi untuk 21 subsektor ekonomi kreatif dan berbagai pemangku kepentingan. Tujuannya adalah untuk memperkuat posisi Malang sebagai Living Media City, yang dapat menarik perhatian lebih banyak pihak dan memperluas jangkauan kreativitas di kawasan tersebut.
Festival yang diselenggarakan oleh Malang Creative Fusion pada tanggal 21 hingga 23 Agustus 2026 ini menargetkan lebih dari 20.000 pengunjung, melibatkan 500 pelaku kreatif, serta mengharapkan terjadinya 300 business matching yang berpotensi menghasilkan transaksi antara Rp50 miliar hingga Rp150 miliar. Hal ini menunjukkan komitmen dalam mempromosikan ekonomi lokal dan memberikan ruang bagi pelaku industri kreatif untuk berkolaborasi dan berinovasi.

Komentar