NASIONAL
Beranda / NASIONAL / Serda Ahmad Tewas Dipukul Senior: Kronologi Versi Puspomau

Serda Ahmad Tewas Dipukul Senior: Kronologi Versi Puspomau

Serda Ahmad Tewas Dipukul Senior: Kronologi Versi Puspomau

Dugaan penganiayaan terhadap Serda Ahmad Muzammil Farisa, seorang anggota TNI Angkatan Udara, yang berujung pada kematiannya, diduga berasal dari konflik antara senior dan junior di lingkungan militer. Insiden tersebut menarik perhatian Pusat Polisi Militer TNI Angkatan Udara (Puspomau), yang menyampaikan bahwa permasalahan ini diawali oleh ketersinggungan yang dialami Serda MTS terhadap Serda RP.

Komandan Puspomau, Marsda TNI Daan Sulfi, menyatakan bahwa Serda MTS mencoba menghubungi Serda RP untuk meminta bantuan. Sayangnya, komunikasi tersebut terputus secara tiba-tiba ketika Serda RP menutup telepon tanpa memberi penjelasan. Hal ini menimbulkan rasa jengkel dan kemarahan bagi Serda MTS.

“Namun di tengah percakapannya, secara tiba-tiba juniornya itu, Serda RP, menutup teleponnya Serda MTS, seniornya. Sehingga senior itu merasa jengkel, tersinggung, dan marah atas kejadian itu,” jelas Daan.

Selang beberapa waktu setelah insiden telepon tersebut, tepatnya pada malam 9 September 2026, Serda MTS memanggil tiga juniornya, yang terdiri dari Serda Ahmad Muzammil Farisa, Serda ZN, dan Serda RP. Pertemuan ini dilakukan sekitar pukul 21.10 WIB dengan tujuan memberikan hukuman kepada mereka.

Menurut laporan dari Puspomau, saat itu Serda MTS memberikan hukuman fisik berupa push up dan sit up kepada ketiga prajurit junior tersebut. Rencana ini juga sempat diinformasikan oleh Serda MTS kepada beberapa rekan angkatannya. Tidak lama setelah itu, tiga prajurit tambahan, yaitu Serda JM, Serda MAD, dan Serda AH, tiba di lokasi pertemuan.

Gaya KDM Soal Peluang Maju di Pilpres 2029 Viral, Netizen Bandingkan dengan Mas Jokowi di DKI Jakarta

Kehadiran ketiga prajurit tambahan tersebut ternyata menjadi bagian dari rangkaian kejadian yang berujung pada tindakan penganiayaan terhadap Serda Ahmad.

Menurut penjelasan yang disampaikan oleh Daan, Serda JM mengambil inisiatif untuk melakukan pemukulan terhadap Serda Ahmad. Dalam konteks ini, Serda Ahmad dianggap sebagai prajurit paling senior di antara ketiga junior yang dikumpulkan oleh Serda MTS. Serda JM beranggapan bahwa tindakan tersebut dimaksudkan sebagai peringatan agar Serda Ahmad bertanggung jawab atas sikap para juniornya.

Namun, tindakan tersebut berubah menjadi penganiayaan yang sangat serius. Serda JM memukul bagian dada Serda Ahmad sebanyak tiga kali dengan tangan kosong. Daan menyebutkan, “Pukulan pertama, kemudian pukulan kedua, (pukulan) ketiganya mungkin lebih keras lagi, mengakibatkan si korban ini terjatuh.”

Setelah menerima pukulan ketiga, Serda Ahmad terjatuh dan kehilangan kesadaran. Ia segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis, namun sayangnya nyawanya tidak dapat diselamatkan dan dinyatakan meninggal dunia. Kematian tersebut menimbulkan keprihatinan dan harus dicermati dengan serius oleh pihak terkait di lingkungan TNI AU.

Peristiwa ini menjadi sorotan karena melibatkan konflik internal di dalam satuan militer, di mana hierarki dan hubungan antar prajurit sepatutnya dijaga dengan profesionalisme dan penghormatan. Puspomau berjanji untuk melakukan penyelidikan mendalam mengenai kasus ini ditujukan untuk mengungkap fakta serta memberikan keadilan bagi para pihak yang terlibat.

Gerindra Kalahkan PDIP dalam Survei Poltracking, Berikut Respons Sugiat Santoso

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *