NASIONAL
Beranda / NASIONAL / Profil KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Gontor yang Viral Setelah Berpidato di Depan Prabowo

Profil KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Gontor yang Viral Setelah Berpidato di Depan Prabowo

Profil KH Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Gontor yang Viral Setelah Berpidato di Depan Prabowo

Nama KH Hasan Abdullah Sahal mencuri perhatian publik setelah pidatonya yang berlangsung pada resepsi peringatan 100 tahun Pondok Modern Darussalam Gontor menjadi viral di berbagai platform media sosial.

Dalam acara yang dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto dan ribuan tamu undangan lainnya, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor ini menyampaikan pidato dengan gaya yang lugas serta diselingi humor, menjadikannya menarik untuk disimak.

Salah satu bagian pidatonya yang mencuri perhatian adalah saat Kiai Hasan mengangkat fenomena sejumlah orang yang cenderung “cari muka”.

Ia memberikan ilustrasi yang menggugah pemikiran, mulai dari individu yang tidak memiliki ijazah tetapi berusaha mencarinya, seseorang yang tidak dikenal namun berambisi untuk mendapatkan nama, hingga orang-orang yang tidak memiliki jabatan namun berupaya keras untuk meraih posisi tersebut.

Pernyataan ini disampaikan dalam suasana hangat peringatan satu abad Gontor dan disambut tawa serta tepuk tangan dari para hadirin. Menariknya, candaannya disampaikan di depan Presiden Prabowo, menambah momen berkesan dalam acara tersebut.

Ipda Yayat Sudrajat Mundur dari Polri Karena Masalah Berat Badan setelah Diperiksa Propam

KH Hasan Abdullah Sahal lahir di Desa Gontor, Ponorogo, pada 24 Mei 1947. Ia merupakan anak keenam dari KH Ahmad Sahal, salah satu tokoh dalam Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

Trimurti tersebut terdiri dari KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi. Sebagai informasi, Pondok Modern Gontor didirikan pada tanggal 20 September 1926 dan pada tahun 2026 nanti, lembaga pendidikan ini akan merayakan satu abad keberadaannya.

Latar belakang keluarga yang kuat dalam pendidikan menjadikan Hasan Abdullah Sahal tumbuh dalam atmosfer pesantren. Ia memulai pendidikan dasarnya di Gontor yang ia selesaikan pada tahun 1959, kemudian melanjutkan ke Kulliyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Gontor.

Hasan menyelesaikan pendidikan di KMI pada tahun 1965 dan kemudian melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin Institut Pendidikan Darussalam (IPD), yang akhirnya menjadi bagian penting dalam sejarah pendidikan tinggi Gontor.

Tak hanya menuntut ilmu, Hasan Abdullah Sahal juga aktif mengajar di KMI Gontor selama kurang lebih dua setengah tahun.

KPU Nyatakan Gugatan Syarat Pendidikan Gibran Terlambat 905 Hari

Pada tahun 1967, ia melanjutkan pendidikan ke Fakultas Da’wah dan Ushuluddin di Universitas Islam Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi.

Setelah itu, pada tahun 1992, Kiai Hasan melanjutkan pendidikan di Mesir dengan mengambil spesialisasi Hadits di Universitas Al-Azhar.

Riwayat pendidikan ini menjadi salah satu aspek yang sangat penting dalam perjalanan Kiai Hasan, yang selanjutnya dipercaya untuk memimpin Gontor. Selain itu, profil resmi Gontor mencatat bahwa ia juga aktif dalam berbagai kegiatan dakwah dan seminar di berbagai negara.

Kepemimpinan Hasan Abdullah Sahal di Gontor dimulai sejak tahun 1985.

Setelah wafatnya KH Imam Zarkasyi pada tahun tersebut, Badan Wakaf Gontor mengangkat tiga pimpinan baru, termasuk KH Hasan Abdullah Sahal, KH Shoiman Luqmanul Hakim, dan KH Abdullah Syukri Zarkasyi.

Bursa Cawapres Prabowo 2029: Sugiono, Sudaryono, Teddy, dan AHY Jadi Sorotan Utama

Sejak itu, Kiai Hasan terus berkontribusi dalam kepemimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor. Saat ini, ia memimpin Gontor bersama Prof KH Amal Fathullah Zarkasyi dan KH Muhammad Akrim Mariyat.

Selain perannya di Gontor, Kiai Hasan juga mendirikan Pondok Pesantren Putri Al-Mawaddah Coper, Jetis, Ponorogo, pada tahun 1989. Tak hanya itu, pada tahun 1992, ia juga mendirikan dan mengasuh Pondok Tahfidz Qur’an Al-Muqoddasah Nglumpang, Mlarak.

Di samping kegiatan tersebut, Kiai Hasan memiliki rekam jejak sebagai pengajar dan penulis. Beberapa karya yang tercatat dalam profil resmi Gontor antara lain Membina Keluarga Muslim, Pegangan Para Qori’, Obsesi Hasan Abdullah Sahal, Ceramah-ceramah Kontemporer, serta Allamatnil Hayah atau Kehidupan Mengajariku dalam tiga jilid.

Kepopuleran Kiai Hasan kembali melonjak setelah sambutannya pada puncak resepsi 100 tahun Gontor menjadi sorotan.

Dalam pidatonya, ia menyelipkan humor kepada Presiden Prabowo sebelum mengaitkannya dengan fenomena “cari muka”. Salah satu pernyataan dalam pidatonya menyebutkan tentang orang yang menginginkan sesuatu yang tidak dimilikinya, seperti ijazah, nama, uang, jabatan, bahkan pengakuan.

Selain membahas soal “cari muka”, Kiai Hasan juga menguraikan prinsip hidup yang dipegang oleh pemimpin Gontor. Pada kesempatan itu, ia menegaskan bahwa pimpinan pondok seharusnya tidak hidup lebih mewah dibandingkan santri dan memberikan ruang bagi santri untuk menyampaikan protes apabila terdapat ketimpangan.

Pidato tersebut kemudian menarik perhatian publik lantaran disampaikan di hadapan Presiden Prabowo dalam acara yang juga dihadiri oleh sejumlah pejabat, tokoh pendidikan, perwakilan negara sahabat, dan alumni Gontor.

Di samping pidato viral tersebut, sosok Kiai Hasan memiliki perjalanan panjang dan bermakna dalam dunia pendidikan serta kepemimpinan pesantren. Selama lebih dari empat dekade, ia berkontribusi dalam kepemimpinan Gontor dan terlibat dalam pengembangan berbagai lembaga pendidikan pesantren.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *