Kediaman Presiden Joko Widodo menjadi sorotan ketika segerombolan belasan orang yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Indonesia Bergerak menggelar aksi demonstrasi. Pada Kamis, 10 September 2026, mereka tiba di rumah presiden dengan membawa berbagai kertas yang berisi protes, serta surat dan plakat yang ditujukan untuk Jokowi.
Aksi tersebut dipicu oleh pernyataan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, yang mengungkapkan kemungkinan penyelenggaraan Pemilu lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan, yaitu 2029. Hal ini memicu reaksi dari massa yang merasa perlu untuk menyampaikan aspirasi mereka secara langsung kepada presiden.
Belasan demonstran ini berdiri di depan kediaman Jokowi dengan tekad untuk menyerahkan surat dan plakat yang mereka bawa. Salah satu peserta, Bangun Satoto, menyatakan bahwa tujuan kedatangan mereka adalah untuk menyampaikan pesan langsung kepada Jokowi.
“Kami ingin menyampaikan sepucuk surat dan satu buah plakat untuk Bapak Joko Widodo,” tegas Bangun, menggambarkan harapan mereka untuk berkomunikasi dengan presiden secara langsung.
Selama aksi berlangsung, para anggota ARIB mengusung plakat yang berisi falsafah Jawa. Pesan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk mengingatkan Jokowi mengenai tanggung jawabnya dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia, terutama setelah adanya pernyataan tentang percepatan Pemilu.
Bangun menjelaskan, “Kami berikan surat dan plakat yang berisi filosofi Jawa.” Pesan tersebut memiliki makna mendalam, di mana setiap individu seharusnya tidak menganggap remeh kekuatan yang dimiliki serta harus senantiasa mengingat hidup dan mati, serta konsekuensi dari setiap tindakan.
Isi dari plakat yang mereka bawa berbunyi:
“Lamun sira sekti ojo kemaki. Lamun sira sekti tansah eling pati. Sapa nandur bakal ngunduh, ngunduh wohing pakarti. Sopo salah bakal seleh.”
Menurut Bangun, falsafah yang terkandung di dalamnya menyiratkan bahwa kekuasaan harus diimbangi dengan sikap rendah hati dan kesadaran akan konsekuensi dari setiap perbuatan. Pesan ini disampaikan sebagai pengingat bagi Jokowi untuk tetap menjalankan tugasnya dengan bijaksana.
Meski telah berupaya mendatangi kediaman Jokowi, massa ARIB tidak dapat menyerahkan surat dan plakat secara langsung kepada presiden. Anggota Paspampres yang hadir di lokasi menginformasikan bahwa seluruh surat dan barang yang ingin disampaikan harus melalui sekretariat resmi.
“Kalau ingin bertemu bapak, silakan. Kami tidak menghalangi,” ujar anggota Paspampres tersebut, memberikan kesempatan bagi massa untuk menjalin komunikasi dengan presiden meski tidak secara langsung.
Massa tetap bertahan di depan kediaman Jokowi selama sekitar 30 menit. Setelah menunggu tanpa hasil, mereka akhirnya memutuskan untuk membubarkan diri. Aksi ini merupakan reaksi terhadap pernyataan Budi Arie yang sempat viral di media sosial.
Dalam video yang beredar, Budi Arie terlihat duduk di samping Jokowi dan berbicara mengenai kemungkinan Pemilu yang bisa berlangsung lebih cepat dari 2029. Ia mengungkapkan, “Tadi saya sudah bisikkan ke Pak Jokowi, ‘Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?’ Apakah kita mau? Belum tentu kita mau.”
Budi Arie kemudian melanjutkan dengan mempertanyakan kesiapan jika Pemilu dipercepat, menimbulkan kegundahan di kalangan masyarakat yang merasa perlu untuk menyuarakan pendapat mereka terkait isu penting ini.

Komentar