HUMANIORA
Beranda / HUMANIORA / Survei Populix: Pemilik Mobil Listrik Didominasi Masyarakat Ekonomi Menengah ke Atas

Survei Populix: Pemilik Mobil Listrik Didominasi Masyarakat Ekonomi Menengah ke Atas

Survei Populix: Pemilik Mobil Listrik Didominasi Masyarakat Ekonomi Menengah ke Atas

Minat masyarakat terhadap mobil listrik (electric vehicle/EV) terus meningkat. Seiring dengan perkembangan zaman, kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan dan penghematan biaya operasional kendaraan menjadi lebih tinggi.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Populix mengungkapkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan masyarakat untuk membeli mobil listrik. Di antaranya adalah pajak yang lebih murah, spesifikasi kendaraan yang beragam, dan aspek harga terjangkau yang menjadi pertimbangan utama.

Menurut Assistance Head of Research for Automotive Populix, Susan Adi Putra, “Insentif dan pajak tahunan yang rendah sangat memengaruhi keputusan pembelian.”

Selain itu, Adi menjelaskan bahwa mayoritas konsumen yang memilih EV berada dalam kelompok ekonomi menengah ke atas, dengan daya beli yang cenderung tinggi. Mereka biasanya menjadikan mobil listrik sebagai kendaraan kedua atau ketiga dalam keluarga.

Program diskon khusus dan garansi purna jual juga berkontribusi signifikan dalam meningkatkan minat konsumen terhadap kendaraan ramah lingkungan ini.

Penemuan Gas Raksasa di RI Dapat Menjadi Sumber Energi Strategis Global

Pendalaman riset oleh Populix melibatkan 3.770 responden yang merupakan pengguna EV. Dari jumlah tersebut, sebagian besar merupakan keluarga kecil, mencapai 72 persen. Sedangkan 23 persen adalah pembeli lajang, dan 5 persen terdiri dari pasangan menikah tanpa anak.

Ketika melihat dari perspektif gender, responden terbagi menjadi 54 persen perempuan dan 46 persen laki-laki, menunjukkan ketertarikan yang relatif seimbang antara kedua kelompok ini terhadap kendaraan listrik.

Meski terdapat tingkat minat yang tinggi, Populix mencatat bahwa masih terdapat beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam adopsi mobil listrik di masyarakat. Tiga hambatan utama yang teridentifikasi adalah:

  • Keterbatasan jumlah stasiun pengisian daya (SPKLU), yang membuat pengguna kesulitan untuk mengisi daya kendaraan mereka.
  • Jaringan diler dan bengkel yang masih belum merata, mengakibatkan aksesibilitas yang kurang bagi konsumen.
  • Performa baterai, khususnya berkaitan dengan jarak tempuh dan kecepatan pengisian yang belum optimal.

Dari aspek ini, penting bagi pihak industri dan pemerintah untuk mengambil langkah nyata dalam mengatasi tantangan tersebut. Penyediaan infrastruktur yang memadai dan pengembangan teknologi baterai yang lebih efisien akan sangat menentukan kelangsungan serta akseptabilitas mobil listrik di pasar.

Dengan demikian, perkembangan mobil listrik di Indonesia diharapkan dapat terus berlanjut, sejalan dengan meningkatnya kesadaran masyarakat akan keberlanjutan lingkungan dan efisiensi biaya dalam penggunaan kendaraan.

Puncak Hujan Meteor Lyrids di Indonesia April 2026: Waktu Terbaik untuk Mengamatinya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement